Baccarat card type_Baccarat betting_Reliable sports betting platform_Betting app

  • 时间:
  • 浏览:0

“She dHandicap gamblingidn’t scHandicap gamblingream loHandicap gamblingudly enough.” – Italian Court via ibelieve.com

Sebuah penelitian dari Journal of Pain yang dilakukan oleh Departemen Psikologi dan Neurologi National University of Singapore mengatakan bahwa orang berteriak untuk meredakan nyeri dan mengalihkan rasa sakit yang dialaminya. Tapi ketika sakit yang terlalu tanpa ada tindakan untuk mengurangi rasa sakit tersebut, seseorang nggak akan bisa melakukan apapun, kecuali menangis menahan sakit.

Jelas, hal ini membuat masyarakat, khususnya netizen, banyak yang mengecam dan mengutuki keputusan hakim yang dinilai nggak masuk akal. Menteri Kehakiman, Andrea Orlando pun langsung menyuruh jajarannya untuk mengusut ulang kasus tersebut. Sebenarnya, apa sih yang dipikirkan Bapak Hakim? Atau memang syarat menjadi korban pemerkosaan itu harus berteriak? Bagaimana menurutmu? Mari kita coba luruskan, Boys!

Tentu saja jika benar terjadi, hakim yang memimpin pengadilan kasus tersebut perlu diberhentikan sebagai hakim. Bukannya apa-apa, jika benar alasan si pemerkosa dibebaskan adalah karena ceweknya nggak teriak, berarti hakim ini sudah sangat bodoh dan seksis. Dalam banyak kasus, memang wanitalah yang seringnya menjadi korban dan pemikiran si pak hakim ini jelas tidak akan membantu untuk mengurangi jumlah korban.  Namun, sebagai pembaca yang budiman, jangan mudah terpancing dengan berita apapun sebelum itu benar-benar bisa dibuktikan kebenarannya.

Ada kejadian aneh yang melibatkan seorang hakim di Italia. Dalam sebuah pengadilan atas kasus pemerkosaan yang dia pimpin, dia menyatakan nggak bersalah pada si pelaku pemerkosa. Alasannya karena korban (cewek), sama sekali nggak berteriak ketika kejadian keji itu berlangsung. Hah?

Mungkin hal inilah yang dialami oleh korban dalam kasus pemerkosaan di Italia pada Februari lalu itu. Karena saking sakit dan sedih, dia nggak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan pasrah. Bisa jadi, kan?

Yang paling penting saat kita melihat berita seperti ini adalah mengurangi bias dan memahami konteks. Dengan begitu kita akan lebih santai dalam membaca dan langsung asal berasumsi. Jangan jadi kayak orang Indonesia kebanyakan yang selalu marah dulu bahkan sebelum baca isi artikelnya.

Berdasarkan fakta tentang rasa sakit di atas, jelas bahwa keputusan hakim sangatlah keliru. Jadi, tidak heran kalau sampai menteri kehakiman Italia memerintahkan orang untuk memeriksa ulang kasus ini. Logika bahwa kenikmatan bisa ditandai dari tidak adanya teriakan sudah jelas adalah sebuah logika yang keliru dan salah kaprah.

Bukannya sepakat dengan Bapak Hakim tersebut, tapi bisa jadi memang bukan si cowok yang patut disalahkan dalam kasus tersebut. Kita nggak bisa selalu menyalahkan cowok dong. Ya, meski cowok sering mendapatkan predikat “selalu salah” dalam hubungan asmaranya. Tapi nggak selalu loh.

Buktinya, banyak sekali kasus seksualitas yang menjadikan cowok sebagai korbannya, dan cewek sebagai pelakunya. Meski masih sedikit terjadi, tapi kejadian ini benar-benar ada. Mungkin karena kurangnya media yang mengekspose berita seperti itu. Artinya, saat ini nggak cuma cowok aja yang bisa melakukan hal-hal buruk dalam seksualitas atau masalah lain. Cewek juga bisa memiliki peran serupa.