Pertama 「Football betting network」dalam Sejarah, Bencana Kelaparan Akibat Perubahan Iklim Terjadi di Madagaskar

  • 时间:
  • 浏览:0

DFootbFootball betting networkall betting networkapaFootball betting networkTkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

WFP pun memperkirakan akan adanya 1,14 juta warga Madagaskar yang mengalami ketidakamanan pangan, dan 400.000 orang yang mengalami bencana kelaparan. Rasa lapar bahkan memaksa warga untuk memakan kaktus mentah, daun dan belalang.

Namun, Madagaskar sama sekali tidak mengalami masalah-masalah di atas. Sebaliknya, negara tersebut sedang mengalami kekeringan terburuknya dalam empat dekade terakhir yang disebabkan oleh perubahan iklim.

KOMPAS.com - Madagaskar tengah mengalami bencana kelaparan akibat perubahan iklim. Bencana ini merupakan kali pertama dalam sejarah manusia.

Baca juga: Laporan PBB soal Perubahan Iklim Jadi Peringatan Kode Merah untuk Manusia

Baca juga: 5 Dampak Perubahan Iklim jika Suhu Bumi Naik 2 Derajat Celsius

Diungkapkan oleh PBB, empat tahun tanpa hujan menyebabkan sekitar 30.000 orang kini mengalami bencana kelaparan dan ketidakamanan pangan di level tertinggi, yakni level lima.

Bencana ini merupakan bukti nyata perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Padahal, awal bulan ini PBB baru saja mengeluarkan laporan perubahan iklim yang menjadi peringatan "kode merah bagi kemanusiaan".

Kabar buruknya, bencana kelaparan akibat perubahan iklim tidak akan menjadi yang terakhir.

Dilansir dari Time, 20 Juli 2021; sepanjang sejarah bencana kelaparan hanya disebabkan oleh kegagalan panen, bencana alam, invasi hama dan konflik antar manusia.

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang ini tidak melakukan apa pun yang menyebabkan perubahan iklim. Mereka tidak menggunakan bahan bakar fosil... tetapi mereka harus menanggung dampak dari perubahan iklim," ujar Thakral.

Dilansir dari BBC, Rabu (25/8/2021); Shelley Thakral dari Program Pangan Dunia (WFP) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, ini adalah kondisi seperti kelaparan dan disebabkan oleh iklim, bukan konflik.

Jumlah korban tersebut juga diperkirakan akan segera meningkat drastis ketika Madagaskar memasuki musim paceklik yang kerap terjadi sebelum masa panen.