Baccarat odds_Canadian Online Baccarat_Texas Hold'em game_Foreign betting platforms_Baccarat Techniques

  • 时间:
  • 浏览:0

MBest Baccarat BettiBest Baccarat Betting Methodng Methodenjadi tenar di media sosial itBest Baccarat Betting Methodu nBest BaBest Baccarat Betting Methodccarat Betting Methodggak mudah lho. Orang bisa gampang mengatakan kalau media sosial itu tempatnya pencitraan. Tapi nggak semudah itu juga. Yang namanya citra kan ada dua, baik dan buruk. Masing-masing, cara tempuhnya beda. Nah, tinggal kamu pilih yang mana?

Salah satu manfaat dari media sosial adalah memudahkan tersebarnya informasi. Nggak semua media sosial isinya orang-orang kesepian yang butuh tempat curhat, atau orang-orang yang butuh wadah untuk pamer kemesraan. Ada juga akun-akun yang informatif dan edukatif. Nggak ada salahnya kamu follow mereka. Daripada timeline-mu hanya dipenuhi status mantan yang bikin kamu susah move on? Nah, mulailah sering-sering retweet akun-akun edukatif itu. Dengan begitu, orang yang berteman denganmu di media sosial bisa melihatmu sebagai sosok yang menaruh perhatian pada isu-isu pengetahuan. Syukur-syukur kalau kamu memang jadi tertarik baca dan ngikutin tren informasi terbaru.

Di media sosial, semua informasi bercampur. Ada informasi yang benar, ada juga informasi yang ngaco. Di sini, kamu harus pandai-pandai memilah. Saat ada sebuah berita yang yang menarik, cek dulu apakah berita itu bisa dipercaya kebenarannya. Kalau dari judulnya saja sudah ngaco dan nggak jelas, jangan disebarkan. Kalau isinya sendiri hanya soal hoax dan sama sekali nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, jangan disebarkan. Berita-berita semacam ini jumlahnya ribuan di media sosial, tapi menyebarkannya tanpa mengeceknya terlebih dahulu hanya akan menurunkan citra baikmu.

Media sosial seperti Facebook dan Twitter memungkinkan semua orang bertemu dengan semua orang. Mengemukakan pendapat di media sosial bisa berbuntut panjang sampai memicu perang komentar. Ada yang benar-benar memahami masalah, sehingga perdebatan bisa berjalan seru dan informatif serta menambah wawasan baru. Tapi ada juga perdebatan yang cuma asal ramai, dan kebanyakan partisisipannya memberikan komentar yang nggak berdasar, menyerang pribadi seseorang, dan bahkan menyinggung isu-isu SARA. Tipe debat kedua ini jangan diikuti. Kalau ada memprovokasi dengan cara seperti ini, tinggalkan saja. Nggak ada gunanya, selain membuat emosi.

Media sosial memang tempatnya pencitraan. Apa yang terjadi di media sosial, hanya ada di media sosial. Saat seseorang posting foto semangkuk mie di restoran mewah dengan caption #DinnerRomantisWithMyBoy belum tentu dinner yang dimaksud terjadi saat itu juga. Bisa jadi itu adalah foto dari dua bulan yang lalu.

Ada yang suka traveling dan hobi mengunggah foto-fotonya di media sosial? Niat baiknya sih menunjukkan keindahan tempat wisata yang kamu kunjungi, supaya mereka juga tertarik untuk datang atau sekadar untuk ngasih tahu kalau kamu sudah pernah kesana. Hehe. Nah saat kamu posting foto tentang suatu tempat wisata, captionnya jangan hanya soal kamu di sana ngapain dan sama siapa, tapi bisa soal pengetahuan sederhana. Misalnya kamu foto di Puthuk Setumbu, kamu bisa membuat caption yang edukatif seperti: Puthuk Setumbu yang jadi lokasi syuting AADC2 ini sejarahnya bla-bla-bla lho. Dapat infonya dari mana? Googling saja, bro.

Supaya terlihat cerdas, kamu juga harus update soal isu-isu terbaru lho. Pencitraan juga perlu usaha, meski cuma sebatas ngecek google trends atau trendingstopics Twitter. Ketika ada isu yang memancing perhatian seluruh warga media sosial, kamu jangan sampai ketinggalan. Kamu nggak harus berkomentar kalau kamu memang nggak tahu. Tapi kamu bisa menyingung sedikit masalah itu, lalu menambahkan : Karena saya kurang paham masalahnya, saya nggak ikut komentar deh. Tapi semoga segera ada solusi yang terbaik. Mengakui ketidakpahamanmu justru bisa membuatmu terlihat cerdas daripada kamu memaksa berkomentar padahal kamu sama sekali nggak paham dengan apa yang kamu katakan.

#tsaaaah

Suasana apa yang kita alami saat ini seringnya membuat tangan kita gatal untuk ngetik postingan kegalauan ke media sosial. Misalnya saat sedang hujan deras dan suasana dingin, kegalauanmu langsung timbul. Alih-alih posting kalimat curhat semacam: Duh, hujan. Dingin. Galau. Inget mantan., kamu bisa mencari quote-quote di Google yang merepresentasikan apa yang kamu rasakan sekarang. Atau kalau kamu punya jiwa sastra, kamu bisa membuat rangkaian kalimat puitis, seperti:

Pokoknya buatlah curhatanmu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca, bukan isi hati mentah-mentah. Dengan begitu, kamu bisa terlihat lebih elegan.

Deru hujan ini kekasih, membawaku kembali pada langit yang sama saat kita saling melepaskan. Adakah di sana engkau merasakan yang sama?

Memang di zaman digital ini, personal branding jadi penting untuk eksistensi. Tapi mesti hati-hati juga, salah-salah malah citramu bisa hancur berantakan. Kalau kamu mau terlihat smart atau minimal nggak alay, kamu harus punya teknik khusus bermain media sosial. Pencitraan nggak selalu berarti kamu mengunggah hal-hal palsu kok. Citramu di media sosial bisa benar-benar baik kalau kamu tahu trik-triknya. Apa aja? Yuk scroll ke bawah!

Ada yang bilang you are what you eat. Nah, bisa kita ubah sedikit menjadi you are what you listening to. Kalau kamu hobi membagi tentang lagu yang kamu dengarkan di media sosial, sesekali post lagu-lagu klasik lama yang orang belum pernah dengar. Atau mungkin bisa lagu-lagu dalam bahasa anti-mainstream seperti Spanyol, Jerman, Perancis, atau Italia. Kamu bisa mengutip juga syairnya yang menurutmu dalam sebagai informasi tambahan. Masalah kamu suka atau enggak lagunya, itu urusan belakangan. Iya sih, ini namanya palsu. Tapi katanya mau pencitraan? Siapa tahu malah jadi suka beneran. :p